Thursday, February 15, 2007

Ratna Indraswari Ibrahim Cerpenis Arema

Oleh LAMBERTUS L HUREK
Wartawan Radar Surabaya

Saya kagum sama Mbak Ratna. Orangnya cacat, ke mana-mana pakai kursi roda, tapi energi kreatifnya luar biasa. Dia sudah menulis ratusan cerpen berbobot yang sudah dipublikasikan di koran, majalah, dan buku. Senang sekali, saya disambut Mbak Ratna dengan ramah di rumahnya. Mbak Ratna bisa jadi sumber inspirasi bagi orang Indonesia, khususnya penulis. Berikut catatan saya yang dimuat di koran Radar Surabaya:

FOTO: Rumah Ratna Indraswari Ibrahim yang juga bangunan cagar budaya di Kota Malang.

Ratna Indraswari Ibrahim, Cerpenis Arek Malang
Ratna Indraswari Ibrahim (57 tahun) bukan sastrawan biasa. Kendati fisiknya cacat, semangat dan kepedulian untuk masyarakat dan kotanya, Malang Raya, sangat tinggi.

AKHIR Juli 2006, beberapa anak muda mampir ke rumah tua--ada tulisan ANNO 1914 di tembok depan--di Jl Diponegoro 3 Malang. Anak-anak muda itu sangat ramah, berbincang akrab dengan pemilik rumah yang duduk di kursi roda. Bahasanya khas negeri jiran, logat Melayu kental. Kendati baru bertemu, pertemuan itu terasa hangat.

“Mereka anak-anak muda Malaysia yang mau belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Mereka datang ke sini untuk silaturahmi,” kata Ratna Indraswari Ibrahim, sang penghuni rumah tua, kepada saya. Senyum manis tersungging dari perempuan asli Malang yang dikenal sebagai cerpenis papan atas Tanah Air.

Tak berapa lama setelah kunjungan mahasiswa Malaysia, datang lagi dua anak muda, cowok-cewek. Keduanya mahasiswa Universitas Islam Malang. “Kenapa kok kelihatan sedih?” sapa Ratna Indraswari Ibrahim. “Ayo, diminum tehnya.”

Dua anak muda itu mencoba meneguk teh hangat manis. “Waduh, Bu Ratna, kamera digital saya hilang di angkot. Padahal, itu kamera pinjaman,” kata si cewek. Ratna pun ikut sedih, tapi tentu tak bisa berbuat apa-apa. Di kota dingin Malang ternyata masih banyak orang ditimpa kemalangan seperti mahasiswa Unisma ini.

Begitulah suasana rumah Ratna Indraswari Ibrahim, yang juga bangunan cagar budaya berusia 92 tahun itu. Tiap hari, kata dia, tamu-tamu selalu datang--entah mahasiswa, wartawan, budayawan, sastrawan, penulis, hingga warga asing. Semuanya disambut dengan ramah oleh perempuan kelahiran 24 April 1949 ini. “Agama saya (Islam) menekankan bahwa silaturahmi itu sangat penting,” ujar pemakai kacamata tebal itu.

Di samping aktivitas utama sebagai penulis cerpen--dilakoni sejak usia delapan tahun--belakangan Ratna Indraswari Ibrahim aktif dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, kemasyarakatan, hingga lingkungan hidup di Malang Raya. Salah satunya Forum Pelangi. Namanya juga ‘pelangi’, acara bulanan ini membahas berbagai topik hangat dan relevan dengan perkembangan Kota Malang. Pesertanya macam-macam.

“Lha, ketimbang hanya ngobrol biasa, kami selalu mendatangkan narasumber yang berkompeten untuk membahas tema tertentu,” tuturnya.

FOTO: Ratna Indraswari Ibrahim dan Penulis

Bicara tentang Malang, kota tercinta, semangat Ratna terasa berapi-api. Banyak hal disoroti Ratna, khususnya perkembangan kota yang cenderung meminggirkan rakyat kecil. Wong cilik digusur di mana-mana. Lihatlah lahan bekas Terminal Patimura di Klojen. Tempo doeloe, kata Ratna, kawasan paling sibuk di Kota Malang sebelum tahun 1980-an itu merupakan kompleks makam warga Belanda.

Entah kenapa, makam itu diratakan, lalu dibuatlah terminal bus dan angkutan kota. Terminal Patimura sempat menjadi pusat kegiatan ekonomi yang ramai. Pedagang kaki lima serta ribuan wong cilik mencari makan di situ. Tiba-tiba Pemkot Malang ‘membersihkan’ terminal itu untuk kompleks ruko (rumah toko).

“Sekarang Anda bisa lihat sendiri? Rukonya laku nggak? Berapa banyak warga yang merasakan manfaat dari situ? Nggak ada. Paling satu dua kantor saja,” ujar Ratna yang telah menulis sekitar 400 cerpen sastra itu.

Ayah Ratna, almarhum Ibrahim, seorang nasionalis pejuang yang sangat peduli sejarah. Ibrahim membiasakan seluruh anggota keluarganya menikmati buku-buku di perpustakaan keluarga. Buku-buku cerita klasik hingga ‘Sarinah’ karya Bung Karno sudah dilahap Ratna di usia belia. Tak heran, Ratna tahu banyak tentang sejarah, sekaligus punya kesadaran sejarah yang tinggi.

Kembali ke kompleks makam Belanda tempo doeloe. Menurut Ratna, seharusnya makam itu dipelihara sebagai kawasan terbuka hijau sekaligus taman kota. Dengan begitu, anak-cucu-cicit orang-orang Belanda itu bisa sewaktu-waktu datang berkunjung. “Devisa masuk. Rupanya, ini kurang dipikirkan oleh pemerintah kota,” kritik Ratna.
Kasus makam Belanda yang disulap jadi terminal, kemudian ruko, hanya satu contoh. Masih banyak lagi kebijakan publik yang membuat Ratna gundah karena hanya cenderung memihak kepentingan pemodal.

MENULIS SEJAK 8 TAHUN
Produktivitas Ratna Indraswari Ibrahim menulis cerita pendek sungguh luar biasa, mengingat kondisi tubuhnya yang tak normal. Untuk sekadar memegang pena atau bergerak saja sulit. Ke mana-mana Ratna menggunakan kursi roda, dibantu asisten setianya.
Lalu? "Saya cukup mendiktekan saja. Rini Widyawati yang menulis. Dia asisten saya yang setia,” ujar Ratna Indraswari Ibrahim.

Ratna mengaku mengalami cacat fisik sejak usia 10 tahun. Namun, wanita kelahiran 24 April 1949 ini mengaku sudah mulai menulis sejak usia delapan tahun. "Saya bersyukur dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kondusif untuk menulis. Jadi, semuanya mengalir begitu saja. Tidak ada yang luar biasa,” kata Ratna merendah.

Siang hari Ratna mengaku selalu dikunjungi tamu dari berbagai latar belakang. Semuanya disambut dengan ramah, istilahnya, demi membina silaturahmi. Dari dialog dengan para tamu, anak-anak muda, pasutri, membaca koran dan buku... lahirlah ide-ide untuk membuat cerpen. Menurut dia, ide bisa diperoleh dari mana saja, tapi tetap harus ada usaha untuk menemukannya.

Nah, setelah gagasan itu matang, mulailah Ratna ‘menulis’. Lebih tepatnya, mendiktekan kalimat demi kalimat kepada Rini Widyawati, yang pernah bekerja sebagai TKW di Hongkong. Tidak butuh waktu lama untuk melahirkan satu cerpen. “Jam-jam kreatif saya, ya, malam hari. Sebetulnya siang juga bisa, tapi banyak tamu. Kalau malam lebih mengalir,” ujar perempuan yang juga aktif di sejumlah forum di Malang Raya itu.

Berapa jumlah cerpen yang sudah dibuat Ratna Indraswari Ibrahim? Angka persisnya sulit diketahui. Sebab, cerpen-cerpen di masa anak-anak dan remajanya tercecer ke mana-mana. Belum terdokumentasi secara baik. Namun, untuk cerpen sastra Ratna memperkirakan 400-an buah. “Sekitar 200 sampai 300 cerpen yang dipublikasikan di media,” ujarnya seraya tersenyum.

Sejak 1980-an nama Ratna Indraswari Ibrahim mulai mengemuka di jagat cerpen Tanah Air menyusul publikasi cerpen-cerpennya di koran serius bertiras besar. Ratna pun semakin bersemangat menulis, dan menjadikan ini sebagai profesi atau jalan hidupnya. Tak hanya di surat kabar atau majalah, Ratna mengaku sudah menerbitkan tujuh buku kumpulan cerpen. Penerbitnya macam-macam. Namun, dia mengeluh karena sejumlah penerbit kurang memerhatikan hak-hak pengarang.

“Di Indonesia ini mengurus royalti, yang merupakan hak pengarang, ternyata sulit sekali. Kayaknya kita ini debt collector saja,” ujar pengarang yang mengidolakan Budi Darma dan Danarto ini. “Tapi ada juga penerbit yang profesional,” tambahnya buru-buru.

Setelah jam terbangnya cukup banyak, Ratna merasa perlu melakukan sesuatu untuk menggairahkan minat anak-anak muda terhadap sastra atau humaniora umumnya. Maka, saat ini Ratna ikut mengurus Penerbit Pustaka Kayu Tangan di Malang. Dia ingin generasi muda tak sekadar gandrung budaya pop, doyan nonton televisi atau film, tapi juga rajin membaca. Ratna membuktikan bahwa dengan banyak membaca ia tahu banyak hal.

“Orang tua itu sumber budaya. Ayah ibu saya menciptakan kondisi yang membuat saya seperti ini. Kami membaca buku kemudian mendiskusikannya,” kenangnya.

Ratna mengaku bahagia karena asisten pribadinya, Rini, saat ini ternyata sudah mampu menulis cerpen-cerpen bagus. Dia juga senang melihat munculnya pengarang-pengarang muda dengan gaya khas meski tak selalu sejalan dengan mereka. (*)

source: http://hurek.blogspot.com



Selanjutnya!

Selamat Ulang Tahun, Mbak Ratna

Percakapan Ringkas dengan Mbak Ratna Indraswari Ibrahim
oleh Kurnia Effendi

Hari ini, 24 April 2006, Ratna Indraswari Ibrahim, cerpenis senior Malang, berulang tahun. Saya mendapat info ini dari Mbak Dyah, programmer News FM Malang, ketika menyampaikan bahwa tanggal 25 April saya hendak bertugas ke Malang. Wah, telat sehari, saya pikir. Tapi tak apalah, akan saya sempatkan untuk singgah di rumah inspiratif Mbak Ratna, besok.

Tadi pagi, khawatir terlupa, saya kirim sms kepadanya: "Selamat ulang tahun, Mbak Ratna. Semoga Allah senantiasa melimpahkan nikmat sehat dan inspirasi tiada henti, seraya menghikmati kericik air depan beranda." Tak berapa lama ia membalas: "Terima kasih."

Menjelang pukul 11, saya mencoba meneleponnya, yang disambut dengan keramahan. Tentu, karena hatinya juga sedang bungah oleh hari bahagia ini. Saya bilang ingin ngobrol jika tidak sedang sibuk. Harapan saya terkabul. Mengapa dia tak sibuk? Karena komputernya rusak sejak satu bulan yang lalu. Tentu saja tak ada kegiatan menulis sepanjang itu. Bukankah 'senjata' penulis adalah mesin ketik atau komputer?

"Jadi cerpen Dina Diam Saja di Kompas tempo hari itu..."
"Ya, itu cerpen yang terakhir. Sekarang belum nulis lagi. Mas Kurnia sibuk apa?"
"Saya sedang suka membaca, kemudian menulis resensinya."
"Oh ya sama, sekarang saya sedang membaca dua buku. Pertama Sang Alkemis, Paulo Coelho. Dan satu lagi..."

Nah yang ini, saya tidak begitu jelas mendengarnya. Tertangkap sebagai "Satan Smile" atau apalah, karya pengarang Perancis, tetapi yang sedang dibaca edisi bahasa Inggris. Buku itu, menurutnya, memiliki riwayat yang membuat Mbak Ratna sangat bahagia.

Syahdan, begini ceritanya. Bahwa pada masa lalu, ketika Ratna Indraswari Ibrahim masih remaja, usia 15 tahun, ia pernah ingin membaca buku itu. Tetapi, tentu di masa 'kini' sudah tak terlacak lagi di mana mesti membeli. Keinginan itu pernah diobrolkan dengan sahabatnya, Herman namanya (tentu bukan dalam cerpen Dewi Lestari yang berjudul: "Mencari Herman" dalam "Filosofi Kopi"). Rupanya - inilah arti seorang sahabat - Herman menyampaikan kepada kakak Mbak Ratna yang bernama Farida Ibrahim (juga seorang pengarang, lho!). Mbak Farida minta tolong pada sahabatnya, Ken Zuraida (isteri Mas Willy Surendra) yang sedang berada di Jerman. Maka diperoleh buku itu di sana. Ketika Mbak Farida memberikannya kepada Mbak Ratna, itu adalah hadiah yang luar biasa baginya.

Sedikit tentang Farida Ibrahim: beliau telah meninggal dunia 7 tahun silam. Sebagai pengarang, Farida Ibrahim seangkatan dengan Mottinggo Boesye, Trisno Juwono, Sunarjono Basuki (yang sampai kini masih menyimpan puisi-puisi almarhumah tapi tak boleh diminta oleh Ratna, adiknya). Di jaman mereka, rata-rata masih gandrung kepada Elvis Presley.

"Nah, apa harapan Mbak Ratna pada ulang tahun sekarang ini?"
"Aku ingin hidup sehat. Dan bisa menulis lebih baik untuk semua orang."
Wah, cita-cita mulia yang terdengar sederhana.
"Karena sehat itu mahal," tambahnya. "Dengan sehat, berarti saya sugih tanpo bondo."
"Benar, Mbak. Saya setuju. Dan Insya Allah besok saya mampir ke rumah," kata saya.
"Jam berapa?"
Lalu saya ceritakan sedikit jadwal saya. Kurang lebih jam 4 sore mungkin, setelah seluruh urusan pekerjaan rampung.
"Kalau nanti malam bisa datang, bisa makan nasi kuning," Mbak Ratna tertawa. "Nah, ini ada kiriman kue tart."
"Mbak, saya minta disisihkan sepotong kue tart ya," Itu permintaan saya. Mudah-mudahan dikabulkan.
Tampaknya memang ini hari bahagia Mbak Ratna. Sepanjang pembicaraan banyak tertawa.. Ia ceritakan akan menggunakan ruang tengah rumahnya untuk acara tumpengan nanti malam, dengan lesehan. Dan memperkirakan yang akan hadir antara 30 - 50 orang.
"Teman-teman saya banyak, dan rata-rata anak muda."
"Dengan demikian," kata saya. "Mbak Ratna akan tetap awet muda."
Kemudian percakapan kami usaikan, dengan harapan besok sore bisa bertemu dalam suasana yang lebih menyenangkan.

"Selamat ulang tahun, Mbak. Kami yang muda-muda ini akan senantiasa belajar banyak dari Mbak Ratna."

source: http://sepanjangbraga.blogspot.com
Jakarta, 24 April 2006, 12.04



Selanjutnya!

Anugerah "Kompas" untuk Ratna Indraswari Ibrahim

Jakarta, Kompas - Harian Kompas memberi Anugerah Kesetiaan Berkarya kepada penulis Ratna Indraswari Ibrahim. Saat yang sama, Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005 diberikan kepada Kuntowijoyo (alm) sebagai penulis cerpen Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing atau Jalan ”Asmaradana”.

Trofi untuk Ratna diserahkan oleh Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-40 Harian Kompas, Selasa (28/6) malam, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Adapun trofi penghargaan cerpen terbaik diserahkan Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo kepada Susilaningsih, istri almarhum Kuntowijoyo. Penghargaan kali ini merupakan yang keempat bagi Kuntowijoyo, setelah menerima penghargaan serupa pada tahun 1995, 1996, dan 1997.

Di samping karya Kuntowijoyo, sembilan cerpen lainnya yang dimuat dalam tahun 2004 menjadi cerpen pilihan yang dibukukan dalam Jl. ”Asmaradana”: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005. Cerpen tersebut adalah Kupu-kupu Seribu Peluru (Agus Noor), Senja Buram, Daging di Mulutnya (Radhar Panca Dahana), Belatung (Gus tf Sakai), Dari Mana Datangnya Mata (Veven Sp Wardhana), Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura (Sunaryono Basuki Ks), Bulan Terbingkai Jendela (Indra Tranggono), Baju (Ratna Indraswari Ibrahim), Daun-daun Waru di Samirono (Nh Dini), dan Roti Tawar (Kurnia Effendi).

Kesetiaan berkarya Ratna ditandai dengan lebih dari 400 karya cerpen, novelet, dan novel yang dihasilkannya sejak usia remaja hingga saat ini. Sejumlah cerpen karya perempuan kelahiran Malang, 24 April 1949, terpilih masuk dalam kumpulan cerpen Kompas.

”Menulis adalah proses belajar yang tak berkesudahan di tengah berbagai informasi yang berdengung di mana-mana. Di tengah budaya ’autis’ yang membuat kita asyik dengan diri sendiri, cerpen tetap diperlukan,” kata Ratna di atas kursi rodanya.

Menurut Jakob, cerpen merupakan bagian yang esensial dari eksistensi surat kabar seperti Kompas, yang falsafahnya adalah kemanusiaan yang beriman, kemanusiaan yang serba dimensi, dan kemanusiaan yang peduli.

”Kalau surat kabar melaporkan kenyataan yang hidup di masyarakat lewat berita dan komentar, lewat cerpen sukma dari kenyataan itulah yang coba digambarkan,” ujarnya. (LAM)

source: Kompas/Humaniora/29Juni'05


Selanjutnya!

Tempat Bercermin: Ratna Indraswari Ibrahim

Helvy

Sudah lama kami tak bertemu. “Bertahun-tahun, Helvy, begitu lama…,” katanya saat saya rangkul.

Saya menatap perempuan di hadapan saya dengan sangat bangga. Perempuan yang tak pernah berhenti menginspirasi saya dan mungkin banyak lagi perempuan di negeri ini: Ratna Indraswasi Ibrahim!

“Mahasiswa-mu baru telepon setengah dua belas malam untuk acara pagi ini!” ujarnya. “Kalau bukan karena kamu, Helvy, aku tidak akan datang,” katanya pura-pura ngambek. “Sebulan setengah lalu memang sudah dihubungi. Habis itu tak ada kabar. Aku kira tidak jadi….”

Saya rangkul lagi dia. “Maafkan mereka ya, Mbak,” kata saya mewakili 70 mahasiswa JBSI Angkatan 2003 yang saya bimbing bersama tiga dosen lainnya dalam KKL (Kuliah Kerja Lapangan) di Malang ini. Salah satu acara yang mereka adakan bekerjasama dengan Universitas Malang adalah menghadirkan diskusi mengenai karya-karya Ratna Indraswari Ibrahim, pagi itu.

Wajahnya cerah. Dia pasti tak benar-benar marah.

Tak lama kami sudah cekikian bertukar kabar, berbicara mengenai banyak hal. “Aku mengikutimu terus lho…,” katanya.

“Aku yang selalu mengikuti Mbak,” balasku tak mau kalah. “Sehat ya, Mbak.”

“Alhamdulillah. Ya beginilah aku, Helvy. O ya buku Rini kan sudah terbit!” katanya. Rini adalah mantan asistennya, konon tamatan SMP dan kemudian menjadi TKW di Hong Kong. Rini pernah mengurus Mbak Ratna cukup lama, termasuk telaten mengetikkan dan mengumpulkan semua cerita yang dilisankan Mbak Ratna.

“Hebat!” kata saya. “Siapa dulu pembimbingnya?”

Dia tertawa. “Di Malang banyak sekali potensi….”

Tapi tentu saja, nama Ratna Indraswari Ibrahim adalah magma kesusastraan yang paling kuat di kota apel itu, bahkan salah satu yang terbaik di negeri ini, batin saya.

“Ceritakan tentang Faiz. Kapan-kapan kalian harus nginap di rumahku ya….”

Saya mengangguk. Mbak Ratna pasti tak menyangka, ia salah satu inspirasi terbesar Faiz.

Lahir 24 April 1949, sejak usia 13 tahun, perempuan periang itu menderita penyakit rachitis. Ia pun menjadi lumpuh. Tak lagi bisa menggerakkan tangan dan kakinya yang mengecil. Sehari-hari ia harus duduk di kursi roda dan diurus oleh orang lain. Tapi apakah ia menyerah dan berputus asa?

Tak pernah ada kata itu dalam kamus dirinya! Ia pantang menyerah dan tak pernah ingin dikasihani. Dia bergerak! Menulis dan berbicara dalam berbagai forum, menjadi motor bagi para aktivis di Malang, mengajar menulis bagi siapa yang menginginkannya. Hari-hari Mbak Ratna yang juga membuka kos di rumahnya, penuh dengan ragam kegiatan!

Bersemangat, selalu optimis, idealis dan tak pernah berhenti berkarya. itulah dirinya! Lebih dari 400 cerpen dan 10 buku telah ia hasilkan dalam masa kepengarangannya yang sudah 30 tahun. Padahal ia tak pernah bisa menggunakan tangannya untuk mengetik. Ia telah mendobrak sebuah kata yang orang lekatkan padanya jika melihat penampilannya: keterbatasan!

Terimakasih telah menjadi salah satu cermin yang paling bening dan paling setia bagi kami, Mbak…, semoga Allah selalu menjagamu….

source: http://helvytr.multiply.com


Selanjutnya!

PROSES KREATIF RATNA INDRASWARI IBRAHIM:

Oleh Naning Pranoto

Ada sebuah surat ditujukan kepada saya dan pengirim surat ini bertanya kepada saya, “Mbak Naning, apakah Anda kenal Mbak Ratna – pengarang dari Malang? Tentu Anda tahu kondisinya. Saya ingin tahu, bagaimana proses kreatif dia menulis sebagai seorang penyandang cacat tubuh (khususnya dengan ke dua tangannya) – padahal dia begitu kreatif dan produktif? Tolong Mbak, pertanyaan saya ini dijawab. Terima kasih.” – Yohanes – Surabaya.

Jawaban saya:
Ya, saya kenal Mbak Ratna yang tinggal di sebuah rumah teduh, antik, luas dan bersih di Jalan Diponegoro - Malang. Walau jarang ketemu tapi hubungan kami cukup dekat (bahkan mesra, karena Mbak Ratna orangnya penyayang – termasuk saya yang disayanginya he..heee…). Baru-baru ini saya ke Malang dan mampir ke rumah Mbak Ratna, selain untuk kangen-kangenan, saya mewawancarainya seputar proses kreativitasnya sebagai penulis. Berikut ini rangkumannya.


Bukan Cacat Sejak Lahir

“Saya ini arema asli lho!” ia membuka pembicaraannya dengan canda-tawa. Yang di maksud dengan ‘arema’ adalah arek malang – anak Malang asli. Ia lahir di Malang, 24 April 1949. “Kalau bicara soal pendidikan, kuliah saya di FIA-Universitas Brawijaya tidak selesai. Tapi tidak kena DO – wong dulu itu belum ada DO-DO-an,” sambungnya, masih sambil bercanda, disertai tawanya yang berderai-derai.

Itulah cirri khas Mbak Ratna, suka bercanda dan pembawaannya sangat periang. Bagi yang belum mengenalnya, tentu hal ini terasa aneh. Karena bila dilihat secara fisik, Mbak Ratna memang ‘terasa’ sulit untuk menjadi pribadi periang. Betapa tidak? Kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi, sehingga ia harus duduk di atas kursi roda dan harus dilayani dalam segala hal. Dengan kata lain, ia mau tidak mau harus tergantung orang lain, karena keterbatasan fisiknya. Untungnya, ia punya banyak orang-orang sekelilingnya yang setia kepadanya, dalam arti tidak hanya menolong untuk mobilitasnya sehari-hari akan tetapi juga setia menyayanginya. Hal ini tampak dan terasakan sekali apabila kita berada di dekatnya, khususnya di rumahnya yang luas dan antik.

Tuhan Maha Besar dan itu ditunjukkanNya melalui sosok Ratna Indraswari Ibrahim yang tidak hanya dikenal sebagai cerpenis tetapi juga menulis beberapa novel yang ‘menyuarakan’ suara perempuan. Sastrawan Budi Darma menyebut, “Ratna itu penulis perempuan yang karya-karyanya sangat feminis!”.

Karya Mbak Ratna antara lain berupa kumpulan cerpen Kado Istimewa (1992), Menjelang Pagi (1994), Namanya Massa (2000), Lakon Di Kota Senja (2002), Sumi dan Gambarnya (2003) dan sebuah novel Lemah Tanjung (2003). “Sekarang saya sedang mempersiapkan novel saya yang bertema Cina – Pecinan di Kota Malang,” tuturnya, ketika jumpa dengan pada bulan Februari ini. Ia menurutkan itu dengan semangat, sambil menunjukkan beberapa buku yang sedang dibacanya, semuanya bertema percinaan.

Karena kedua tangannya tidak berfungsi (tidak dapat memegangi buku), maka buku-buku yang dibaca Mbak Ratna diletakkan di atas dudukan buku dan ditemani asistennya yang siap membantu apa saja yang diperlukan oleh Mbak Ratna. “Saya cacat begini tidak sejak lahir,” tiba-tiba Mbak Ratna menceritakan kondisi fisiknya, “Saya mulai mengalami cacat tubuh pada usia sekitar tigabelas tahun, tapi prosesnya sejak saya berumur sepuluh tahun.” Tegasnya.

Lebih lanjut Mbak Rata menceritakan bahwa cacat tubuh yang menimpanya disebabkan oleh penyakit rachitis (radang tulang). Maka tak heranlah, apabila Mbak Ratna punya foto dirinya ketika kondisi tubuhnya masih normal. Foto itu dipasang di kamarnya. Bahkan ada beberapa teman yang bercerita, ketika Mbak Ratna masih kecil dan tubuhnya belum cacat, punya hobi memanjat pohon seperti anak laki-lakilaki. Ia anak yang amat dinamis.

Berkat Sang Ibu

Mbak Ratna anak ke lima dari keluarga besar. Ayahnya meninggal ketika ia menjelang remaja dan sejak itu ibunya yang lulusan HIS menjadi single parent . “Ia sosok perempuan yang kuat, teguh, mandiri, punya daya juang tinggi dan sangat menyayangi anak-anaknya. Ibu saya dagang, jualan barang-barangbarang untuk keperluan sehari-harihari tetapi minus beras. Ia pandai berdagang, mungkin karena berdarah Padang.” Mbak Ratna tertawa. Tetapi tidak satu pun anaknya yang mewarisi darah dagang ibunya. “Saya mewarisi hobi Ibu, suka membaca. Dulu, Ibu bercita-cita ingin jadi pengarang tetapi tidak kesampaian!” sambung Mbak Ratna.

Karena hobinya itu, ibu Mbak Ratna suka mengoleksi novel dan Mbak Ratna ikut membacanya. Ketika ia mulai sakit (radang tulang), hobi membacanya makin meningkat karena mobilitasnya terbatas. Bahkan ketika ia sudah cacat, hobinya membaca berkembang menjadi menulis. “Ibu-lah yang memotivasi saya sebagai penulis!” tekannya. Kegiatan menulis membuat Mbak Ratna tidak merasa cacat dan ibunya memang tidak pernah menganggapnya cacat. Maka ia tidak pernah diperlakukan istimewa., apalagi dikasihani. Memang perlu dilayani, tetapi sewajarnya dan tidak disertai keluh-kesah.

“Saya memang pernah stress berat menghadapi kondisi tubuh saya, tetapi Ibu selalu membesarkan hati saya, akhirnya ya saya menjadi terbiasa. Karena saya berpikir, masih untung, otak saya selamat, tidak diserang virus. Jadi,. Saya maasih bisa berpikir dan berbuat sesuatu,” ia bersyukur.

Proses Kreatif: Ketika Kaki dan Tangan Tak Berfungsi


Bila dilihat sepintas, saat Mbak Ratna berada di atas kursi roda, ia tampak seperti perempuan tidak berdaya. Yang benar adalah, selain ia sebagai pengarang, juga sebagai aktivis/LSM dan pengurus organisasi penyandang cacat (untuk kegiatan ini Mbak Ratna telah berkali-kali menjadi duta ke luar negeri untuk mengikuti berbagai seminar dan workshop) . Sehari-harihari rumahnya dipenuhi tamu untuk mendiskusikan berbagai hal yang sifatnya untuk pelayanan sosial: advokasi hak-hak perempuan, kegiatan para penyandang cacat hingga pelestarian lingkungan.

Dalam melakukan aktivitasnya, ia dibantu beberapa asistennya. Khususnya untuk kegiatan menulis ia didampingi Rohadi dan Rini. Yang aktif sekarang adalah Rini (23 tahun), yang ikut Mbak Ratna sejak berusia 13 tahun. Tugas Rini adalah mengetik, apa yang didiktekan oleh Mbak Ratna. “Jadi, saya ini sebetulnya juru cerita lisan – tidak tertulis. Baru tertulis, kalau Rini mood-nya bagus, mengetikkan karya saya,” Mbak Ratna tertawa-tawa dan Rioni tersipu-sipu. “Kalau mood Rini ndak bagus ya…karya saya cuma sebatas lisan.” Tegasnya.

Ia menekankan betapa pentingnya Rini (tidak lulus SMP) dalam proses kreatifmya. Juga, para asistennya terdahulu sebelum Rini aktif, misalnya Rohadi. Ada juga Hastari – mahasiswa pascasarjana yang juga penyandang cacat (kakinya terkena folio). Mereka ini adalah bagian dari proses kreatif Mbak Rana menulis. Ia tertawa saya menyebut mereka sebagai ‘kembar-siam’ Mbak Ratna. Dengan jenaka ia menimpali, “Mereka itu sebetulnya belahan jiwa dan perasaan saya. Sebab, bila mereka hanya menulis apa yang saya diktekan tentu saja hasilnya akan kering. Jiwa dan perasaan mereka ikut menulis, saat mengetik karya-karya aya.” Papar Mbak Ratna.

Gangguan Itu Indah

Mbak Ratna mengaku, ia tidak punya jam-jam khusus sebagai ‘jam produktif’. Baginya, kapan saja bisa menulis asalkan ada yang mendampinginya. “Sayangnya, baru ketik-ketik mulai menulis tiba-tiba ada tamu, ngobrol seharian, ya…jadinya tidak menulis. Malam juga begitu, sering ada tamu. Banyak gangguan sih…tapi itu gangguan yang indah, karena saya memang perlu teman. Untuk keperluan jiwa maupun materi mengarang saya, karena saya tidak bisa mobile. Teman-teman yang kemari adalah pemberi inspirasi saya,” Mbak Ratna jujur. Karena teman-temannya pula ia mengaku, jadi jarang menghadapi ‘kebuntuan dalam menulis’.

Apa yang dikatakan memang benar. Tamu-tamu yang berdatangan ke rumah Mbak Ratna memang umumnya menjadi ‘informan’. Contoh, ketika saya bertemu dengan Mbak Ratna (untuk wawancara materi ini) ia sedang mencari bahan mengenai Cina Indonesia (untuk novelnya tentang Pecinan di Malang) dan para tamunya memberi info tentang itu, secara lisan maupun membawa buku-buku. Kemudian, asisten Mbak Ratna mencatatnya.

Karena banyaknya ‘gangguan’, Mbak Ratna mengaku untuk menyelesaikan satu cerpen bisa berbulan-bulan dan untuk menulis novel bisa bertahun-tahun. “Agar tidak kecewa, saya tidak punya target. Segalanya saya biarkan mengalir saja!” – demikian prinsipnya. Yang pentingnya, ia buat dulu synopsis karya-karya yang akan ditulisnya. Dari synopsis ini cerita yang akan ditulisnya jadi tetap runtut alurnya, konstruktif kerangkanya. Dari synopsis bila perlu pengembangan ia diskusikan denan para asisten yang membantunya menulis agar ceritanya tidak rancu.

Titik-Koma dan Persaaan

Walau berkarya dituliskan oleh orang lain, Mbak Ratna berusaha merasa puas. “Kadang memang kurang sreg dalam meletakkan titik-koma. Soal perasaan? Ya, saya gambarkan sedemikian detail kemudian diserap oleh orang-orang yang mengetikkan karya saya. Kadang, saya merasa, kalau yang mengetik laki-laki bahasanya kok jadi lain heee..heee…,” Mbak Ratna tertawa-tawa. Untunglah ia punya banyak reader dan kritikus yang membuat karyanya ia nilai ada yang ‘memfilter’. “Kalau mereka nilai jelek ya lalu saya perbaiki, direvisi gitu…,”

Selain mengarang cerpen dan novel, tahun 1993 Mbak Ratna menulis buku Pelajaran Mengarang. Maksudnya, ia ingin menularkan ilmunya kepada banyak orang. Dalam kesehariannya, secara tidak langsung, ternyata ia bisa ‘menularkan’ ilmunya kepada para asistennya. Buktinya? Rohadi yang semula buta mengenai dunia mengarang dan penerbitan menjadi banyak tahu mengenai kedua hal tersebut dan kini bekerja di sebuah penerbit di Surabaya. Bahkan, Rini lebih dari itu. Perempuan muda bertubuh langsing ini telah mampu menulis buku tentang pengalamannya ketika bekerja di Hong Kong dan Malaysia sebagai TKW. Apa yang ditulisnya (judul sementara Cacatan Harian Seorang TKW) akan segera terbit.

“Saya bisa menulis karena biasa mengetikkan karya-karya Bu Ratna,” Rini bercerita dengan ceria. Sementara itu teman-temannya menilai bahwa gaya tulisan Rini mirip atau bergaya baha model Mbak Ratna. Penilaian ini tidak membuat Rini rendah diri atau menyesalinya. Dengan bangga ia berkata, “Saya memang bisa menulis karena Bu Ratna.” Di lain pihak Mbak Ratna mengatakan, “Rini banyak membantu proses kreativitas saya dalam menulis. Jadi kami saling mengisi dalam berkreasi!” Mbak Ratna menutup ceritanya.



Selanjutnya!

Ratna Indraswari Ibrahim


Postingan

CERPEN collections

ILMIAH collections

PUISI collections


Free shoutbox @ ShoutMix

blog TUTOR

    Dapatkan trik-tips membuat dan membuat blog (blogger) serta info blog assesoeries di sini

  • TUTOR-bloggings